Thursday, August 7, 2008

Cerpen

Koin di Atas Tahi Ayam

Tanggal tua. Selalu seperti penantian berabad-abad lamanya bagi Alya. Upah buruh biasa seperti dirinya sampai kiamat pun tak akan pernah bisa membuat hidupnya sejahtera, apalagi kaya raya. Alya tahu itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Menjadi buruh bulanan di perusahaan perikanan terbesar di Kota Kendari itu merupakan satu-satunya lubang yang mengalirkan rizki yang menghidupi dirinya dan anaknya Rahmat selama ini, sejak setelah suaminya pergi meninggalkannya merantau di negeri yang jauh, Batam.

Dalam seminggu ini Alya seperti sudah kehabisan nafas. Di dapurnya tak ada lagi bau ikan, yang ada hanyalah aroma mi instant yang juga sudah berhenti sejak tiga hari yang lalu. Kemudian yang mengisi perutnya sampai hari ini tinggal nasi putih dan air. Tak ada lagi uang untuk beli lauk.

Didorong rasa kasihan kepada anak semata wayangnya yang masih berusia dua tahun itu, dengan sekuat tenaga pagi tadi diberanikannya dirinya mengeluarkan kata memalukan itu lagi. Nambah utang, sebutir telur. Alya tahu, anaknya butuh gizi untuk pertumbuhannya. Biarlah dirinya kurus kering. Yang penting anakku sehat, agar masa depannya lebih baik dari diriku, pikirnya.

Matahari semakin condong ke arah barat. Alya masih duduk termenung memikirkan apa yang akan dimakannya malam ini, dan juga besok pagi. Baru saja tadi dilihatnya ember plastik tempatnya menyimpan beras menampilkan butiran-butiran menyedihkan yang tak akan cukup memenuhi genggamannya. Sementara hari yang dinanti untuk terima upah masih dua hari lagi.

Uang di tangannya kini tinggal kepingan-kepingan koin yang hitungannya berjumlah lima ratus kurang lima puluh rupiah. Ya, empat ratus limapuluh rupiah. Itulah uangnya saat ini. Penyakit batuknya pun semakin parah akibat bekerja di ruangan bersuhu dingin sepanjang hari tanpa disertai minum obat yang teratur, selama ini yang mampu dibelinya hanyalah obat murahan yang tak mungkin mampu menyembuhkannya secara total. Tapi itulah yang dikonsumsinya selama ini yang membuatnya sampai saat ini masih bisa bertahan bekerja menghidupi anak dan dirinya meski pas-pasan.

“Malam ini aku dan anakku makan apa?” Alya melirik anaknya yang sedang memainkan mobil-mobilan di atas lantai beralas plastik lusuh. Anak itu terlihat sudah menguasai ruangan tiga kali empat yang dibayarnya 60 ribu perbulan itu. Mulut mungilnya sekali-sekali menirukan suara derum mobil yang terdengar menggemaskan. Wajahnya yang polos tak mempedulikan kegelisahan ibunya yang dari tadi memandanginya dengan sedih sambil menahan air mata haru dan sedih. Terharu karena anaknya sudah besar dalam asuhan dan cucuran keringatnya selama setahun lebih ini. Ayahnya sudah tidak terdengar beritanya. Alya berfikir mungkin suami yang dinikahinya empat tahun lalu itu sudah senang dengan wanita lain. Entahlah. Yang jelas sekarang dia menghibur diri saja dengan menanamkan satu hal bahwa suaminya sudah meninggal.

Tiba-tiba..

“Mama, Mat lapal”

Alya tersentak ketika tiba-tiba suara derum mobil aneh itu berhenti. Berganti dengan rengekan memilukan anaknya yang seakan sudah diduganya akan terjadi.

“Ap.. apa nak?”

“Mat lapel…mau makan”

Rahmat mulai menangis. Alya menjadi gugup. Ya Allah, apakah aku harus ngutang lagi? Sementara utangku sudah bertumpuk.

Alya membayangkan wajah Mak Eni janda tua pemilik kios tempatnya berlangganan ngutang. Beberapa hari ini, wajah itu sudah tidak ramah. Alya langsung mengerti perubahan itu. Dia pasti menuntut utang segera dibayar. Tapi selama ini kan aku selalu bayar tepat waktu. Alya bingung.

Alya bersyukur karena masih ada orang yang mempercayainya mengutang meski penuh dengan ketidakenakkan. Sama seperti teman-teman kerjanya di PT. Dharma Samudra yang indekost di dekatnya, mayoritas juga ngutang sama Mak Eni, upah bulananlan yang menjadi jaminan kepercayaan. Alya tidak bisa memungkiri kalau sebagian besar upah bulanannya lari ke kantong Mak Eni pemilik kios yang menyediakan hampir semua keperluan sehari-hari Alya dan anaknya. Selebihnya untuk bayar Tante Acing yang menjaga Rahmat kalau Alya pergi kerja.

Kadang Alya berfikir kalau hidupnya terlalu berputar-putar dan membosankan. Setiap hari dan setiap bulannya bergulir hal yang sama. Di awal bulan terima upah kerja, lalu tak menunggu minggu uang itu sudah raip dihamburkan ke tempat-tempatnya ngutang. Ke Mak Eni dan Tante Acinglah tempat pertama yang ditujunya. Bahkan kadang tak menunggu besok, di hari dia menerima upahnya langsung saja dibayarnya utang ke orang-orang yang dianggapnya terlalu berjasa dalam hidup dirinya dan anaknya itu. Sementara di pertengahan bulan ketika uang sisa bayar utang sudah habis, maka kegiatan ngutangpun akhirnya dilakoni, terutama ke Mak Eni. Biasanya di awal-awal pengutangan, Mak Eni selalu terlihat bersemangat melayani pekerja-pekerja Dharma yang datang mengutang sembako padanya. Tetapi di akhir bulan, entah kenapa dia selalu berwajah muram melayani mereka. Padahal kalau Alya pikir, bukankah tanggal tua berarti mendekati tanggal muda? Yang berarti waktu pembayaran utang sudah semakin dekat? Alya tidak tahu apa yang ada di pikiran Mak Eni. Tapi yang jelas, wanita tua itu tetap dianggap malaikat penolong ketika di tangannya sudah tidak ada goceh lagi.

Terkadang Alya berfikir ingin mencoba alur kehidupan yang lain yang memungkinkannya bisa meloncat lebih jauh. Masa depan anaknyalah yang selalu menjadi bahan pikirannya. Tak mungkin begini terus. Hidup gali lubang tutup lubang. Lubang yang seakan tak pernah hilang. Sampai saat ini, arah loncatannya itulah yang dipertimbangkannya. Sementara dia hanya tamatan SMA.

“Tunggu sebentar ya nak”. Alya menyeka air matanya

Bergegas Alya mengambil kumpulan koin yang ditaruhnya di laci lemari plastiknya. Sesaat terdengar gemerincing koin karena Alya sedang menghitung kembali jumlahnya. Tidak bertambah dan tidak berkurang, empat ratus limapuluh rupiah. Akh, uang segini apa yang bisa dibeli? Alya memutar otak. Anakku harus hidup.

“Mat mau makan apa? Alya mencoba menanyakan selera anaknya meski perasaannya berkecamuk menanti jawaban dari mulut polos itu. Alya sudah tak dapat menahan air matanya lagi.

Anak itu diam. Memandang wajah ibunya sambil tertegun. Seakan mengerti apa yang dirasakan ibunya.

“Nasi sama telur pake kecap ya?” Alya langsung menebak karena itulah yang biasa disukai Rahmat. Anak itu tetap diam. Alya mengulangi pertanyaannya.

Anak itu tetap memandangnya. Tangisnya yang tadi menjadi-jadi sudah tidak terdengar lagi sejak mendengar gemerincing koin yang dihitung Alya.

Anak itu menggelengkan kepala

“Trus, Rahmat mau makan apa?” Alya tetap bingung dengan sikap anaknya. Bukannya tadi dia menangis karena lapar?

“Mat mau makan loti aja”

“Roti?!... Kok roti nak? Itu tidak mengenyangkan”

“Mat mau makan loti… ga mau makan naci”, Rahmat terlihat mulai menangis lagi. Alya jadi iba.

“Baiklah nak. Mama akan beli roti untuk Mat sekarang”

Alya masih berfikir. Kenapa anakku berubah pikiran? Apakah karena dia melihat koin sehingga dia ingin makan roti, bukannya nasi? Alya baru ingat kalau dia selalu menggunakan koin untuk membeli roti ketika Rahmat minta dibelikan roti. Akh dasar anak-anak, ada-ada saja tingkahnya.

Alya bangkit dan menimbang-nimbang uang koin empat ratus lima puluh rupiah di genggamannya. Harga roti perbiji lima ratus rupiah. Uang ini tidak cukup. Kurang lima puluh rupiah!.

Akh, aku harus berani berutang lagi ke Mak Eni. Dia sudah merencanakan apa yang akan diutangnya untuk menghidupi diri dan anaknya sebelum hari terima upah tiba, dua hari lagi. Dia harus ngutang beras dua liter, telur empat butir, dan roti untuk Rahmat. Ini yang terakhir untuk bulan ini. Bergegas Alya menuju kios Mak Eni yang hanya berjarak 10 meter dari kamar kontrakannya.

Tetapi, betapa Alya kecewa menyaksikan kios harapannya itu sudah tertutup rapat. Alya heran, kok jam segini sudah tutup. Biasanya kios ini buka sampai jam 11 malam.

Alya memberanikan diri mengetuk pintu, tak ada sahutan. Diketuknya sekali lagi.

“Mak Eni sedang pergi, ada anaknya yang melahirkan di rumah sakit. Tak ada orang di rumah itu”, Alya menoleh. Dilihatnya siapa yang berbicara, ternyata tetangga sebelah kanan rumah Mak Eni yang melongok dari pintu rumahnya.

“Oh ya. Kapan baliknya kira-kira?” Alya merasa harus tahu kapan Mak Eni pulang. “Tidak tahu juga ya? Soalnya melahirkannya operasi katanya”

“Ooh. Kalau begitu permisi pak. Terima kasih”

Alya melangkah gontai meninggalkan kios itu. Bagaimana dengan anakku?

Diliriknya koin di genggamannya. Dia akan menuju ke kios Bu Dina yang terletak agak jauh dari kamar kostnya. Bu Dina yang terkenal pelit dan kurang baik melayani pembeli tak akan mungkin menerima uang kurang meski cuma lima puluh rupiah. Malah dia tak segan-segan akan mendamprat pembeli kalau uang kurang atau uangnya terlalu lusuh. Alya sudah pengalaman menyaksikan temannya yang berbelanja di warung Bu Dina yang menerima ocehan pedas dari mulut Bu Dina hanya karena uangnya kurang seratus rupiah. Katanya : jangan membeli kalau tidak punya uang, dasar buruh ikan. Kerjanya cuma ngutang.

Alya terus memeras otak, paling tidak bagaimana harus memenuhi keinginan anaknya untuk makan roti yang akan dibelinya di warung Bu Dina.

Tiba-tiba Alya langsung teringat kalau beberapa hari yang lalu dia melihat ada koin seratus rupiah di bawah jemuran pakaiannya. Semula akan dipungutnya, tetapi dia jijik melihat koin itu terletak persis di atas tahi ayam yang masih segar. Aku harus mengambilnya sekarang.

Alya memutar langkah menuju kamar sewaannya kembali. Diintipnya dari jendela, anaknya kembali bermain mobil-mobilan meski suaranya derum mobil dari mulutnya sudah tidak senyaring tadi. Anak itu sudah biasa ditinggal sendiri, sehingga ketika Alya pamit meninggalkannya tadi dia mengangguk saja.

Di bawah sinar rembulan yang remang-remang, Alya menuju bawah jemuran terdapatnya koin beralas tahi ayam yang kini menjadi harapannya. Semoga belum ada yang memungutnya.

Dari kejauhan kilau koin tampak menonjol di tengah tanah di sekitarnya yang berwarna coklat. Alya mengambil ranting kecil lalu mengeluarkan koin itu dari peraduannya yang tampaknya akan abadi kalau Alya tidak mengeluarkannya. Tahi ayam yang beberapa hari yang lalu masih segar kini sudah mengering sehingga Alya sudah sejijik waktu pertama kali melhatnya beberapa hari yang lalu.

Setelah koinnya keluar, Alya mengoreknya menggunakan ranting lain hingga bersih. Tak cukup sampai di situ, dibawanya koin itu menuju sumur tempatnya biasa mengambil air. Lalu dicucinya hingga bersih. Kini koin itu siap digabung dengan koin lain untuk pembeli roti Bu Dina yang dinanti anaknya. Alya tersenyum di tengah keremangan malam. Besok aku akan ngutang beras dan telur. Terakhir di bulan ini.* By: Sri